BONGKAR TRADISI

April 30, 2008 at 8:27 am (sepak bola)

Chelsea v Liverpool
LONDON – Final Liga Champions sangat asing bagi Chelsea. Wajar. Sebab, The Blues -sebutan Chelsea- belum pernah mencicipi laga pemungkas itu dari tiga kali kesempatan di semifinal. Sebaliknya, Liverpool punya tradisi bagus. The Reds -julukan Liverpool- delapan kali tampil di final, lima di antaranya sukses menjadi juara.Kalau begitu, siapa di antara kedua tim yang berhak tampil di Stadion Luzhniki, Moskow, Rusia, pada 21 Mei nanti? Dalam dua semifinal sebelumnya (edisi 2004/2005 dan 2006/2007), Chelsea memang selalu takluk di tangan Liverpool. Tapi, Chelsea musim ini punya kans membongkar tradisi.

Berbekal hasil imbang 1-1 di leg pertama di Anfield (22/4), keuntungan lebih besar ada pada The Blues. Artinya, skuad Avram Grant itu hanya butuh hasil imbang 0-0 di leg kedua di Stamford Bridge dini hari nanti WIB (siaran langsung RCTI mulai pukul 01.30 WIB) untuk lolos ke Moskow alias bertemu pemenang antara Manchester United atau Barcelona di slot semifinal lainnya.

Beban lebih berat ada pada Liverpool. Agar lolos ke final kali ketiga dalam empat musim terakhir, syarat yang harus dipenuhi The Reds adalah menang. Kalaupun seri, harus dengan gol lebih dari satu (2-2, 3-3, 4-4, dst).

Faktor lain yang mengganjal Liverpool adalah rekor home fantastis Chelsea di Stamford Bridge. Jika di Premier League Chelsea tak terkalahkan dalam 80 laga, di Eropa The Blues tak terkalahkan dalam sebelas partai kandang terakhir atau kali terakhir kalah pada Februari 2006 (dari Barcelona). Tak hanya itu, Liverpool bahkan tidak pernah menang atau mencetak gol di Stamford Bridge di masa kepelatihan Rafael Benitez mulai Juni 2004.

Satu lagi nilai plus Chelsea adalah motivasi John Terry dkk yang tengah menanjak berkat kemenangan 2-1 atas Manchester United dalam big match Premier League di Stamford Bridge Sabtu (26/4). “Kemenangan itu (atas Manchester United, Red) adalah bonus tambahan lawan Liverpool. Kami sudah tidak sabar tampil di Moskow,” kata Petr Cech, kiper Chelsea, sebagaimana dikutip Daily Express.

Cech yang tampil ekselen di leg pertama optimistis bahwa pertandingan tidak akan berlanjut hingga babak tambahan atau adu penalti. “Asalkan bisa mempertahankan penampilan seperti di Anfield, saya rasa kami hanya butuh 2 x 45 menit untuk menjadi pemenang,” koar kiper Timnas Republik Ceko tersebut.

Dibandingkan leg pertama, kekuatan Chelsea lebih solid karena pemain serbabisa Michael Essien tampil kembali setelah bebas dari skors kartu. Satu-satunya yang masih teka-teki adalah tampilnya Frank Lampard. Hingga berita ini ditulis, Avram Grant belum memastikan apakah gelandang andalannya itu bakal main atau tidak.

Memang, minus Lampard pun Chelsea masih tangguh karena ada Michael Ballack. Tapi, The Blues harus menyadari bahwa lini tengah Liverpool punya Steven Gerrard. Kapten tim The Reds tersebut selalu menjadi aktor utama keberhasilan timnya di ajang Eropa dalam beberapa musim terakhir.

Jika Gerrard sebelumnya seolah bekerja sendirian, kini dia punya partner berbahaya, Fernando Torres. Kolaborasi keduanya telah menghasilkan 51 gol sepanjang musim ini. “Saya yakin, Gerrard atau Torres akan menjadi penyelamat kami di Stamford Bridge,” urai Rafael Benitez sebagaimana dikutip Sportinglife.

Demi mematahkan tradisi tidak pernah mencetak gol di Stamford Bridge selama kepelatihannya di Liverpool, Benitez bakal menyiapkan taktik berbeda. Peter Crouch yang tengah in-form bisa dimainkan sebagai pendamping Torres dan mengorbankan Ryan Babel.

Perubahan lain sudah pasti terjadi di lini belakang, menyusul cedera selangkangan yang menimpa full back kiri Fabio Aurelio. Opsinya, Alvaro Arbeloa digeser dari full back kanan ke kiri. Itu berarti posisi Arbeloa akan diisi Jamie Carragher. Opsi lainnya adalah memainkan John Arne Riise yang membuat gol bunuh diri di leg pertama. (dns/iro)

PERKIRAAN PEMAIN

Stadion : Stamford Bridge
Wasit : Roberto Rosetti (Italia)

CHELSEA (4-3-3) : 1-Cech; 5-Essien, 6-Carvalho, 26-Terry, 3-A. Cole; 13-Ballack, 4-Makelele, 8-Lampard; 10-J. Cole, 11-Drogba, 21-Kalou
Cadangan: 40-Hilario, 7-Shevchenko, 12-Mikel, 15-Malouda, 20-Ferreira, 24-Wright-Phillips, 39-Anelka
Pelatih: Avram Grant

LIVERPOOL (4-2-3-1): 25-Reina; 23-Carragher, 4-Hyypia, 37-Skrtel, 17-Arbeloa; 14-Alonso, 20-Mascherano; 18-Kuyt, 8-Gerrard,19-Babel; 9-Torres
Cadangan: 30-Itandje, 3-Finnan, 6-Riise, 10-Voronin, 11-Benayoun, 15-Crouch, 16-Pennant
Pelatih : Rafael Benitez

HEAD TO HEAD (Liga Champions)
22-04-2008 Liverpool v Chelsea 1-1 (semifinal)
01-05-2007 Liverpool v Chelsea 1-0 (semifinal)
25-04-2007 Chelsea v Liverpool 1-0 (semifinal)
06-12-2005 Chelsea v Liverpool 0-0 (penyisihan grup)
28-09-2005 Liverpool v Chelsea 0-0 (penyisihan grup)
03-05-2005 Liverpool v Chelsea 1-0 (semifinal)
27-04-2005 Chelsea v Liverpool 0-0 (semifinal)

FACTS AND FIGURES
1. Duel ini bakal menjadi pertemuan kedelapan Chelsea versus Liverpool di Liga Champions. Catatan sebelumnya adalah Liverpool menang dua kali, imbang empat kali, dan Chelsea sekali menang. Secara keseluruhan, ini adalah duel ke-152 kedua tim di berbagai ajang dengan Liverpool menang 67 kali, imbang 32 kali, dan Chelsea menang 52 kali.
2. Chelsea hanya butuh hasil imbang 0-0 untuk lolos ke final. Sedangkan Liverpool butuh hasil imbang minimal 2-2, 3-3, 4-4, dst.
3. Jika Chelsea memburu final pertama Liga Champions, Liverpool mengincar final kali kedelapan.
4. Sejak ditangani oleh Rafael Benitez, Liverpool tidak pernah menang dan tidak pernah mencetak gol dalam delapan kali lawatan ke Stamford Bridge.
5. Musim ini di Stamford Bridge, Chelsea mengalahkan Liverpool 2-0 di perempat final Piala Carling lewat gol Frank Lampard dan Andriy Shevchenko.
6. Liverpool kali terakhir gagal di semifinal Liga Champions pada edisi 1964/1965, saat Liga Champions masih bernama European Cup. Sementara itu, Chelsea yang tidak pernah bisa melewati tiga kali kesempatan lolos dari empat besar, selain dua kali dari Liverpool, juga kalah agregat 3-5 dari AS Monaco di Liga Champions edisi 2003/2004.
7. John Terry (Chelsea) serta Jamie Carragher, Steven Gerrard, dan Fabio Aurelio (dari Liverpool) bakal absen di leg kedua semifinal jika menerima kartu kuning pada laga ini. (dns/iro)

KOMENTAR

“Saya setuju jika musim ini adalah momen Chelsea. Mereka akan menebus kegagalan dua kali semifinal dari Liverpool dan lolos ke final kali pertama. Tentang Avram Grant, saya menilai bahwa dia punya kualitas sebagai pelatih Chelsea dan dia cocok menangani tim tersebut.”
Marcel Desailly, mantan pemain Chelsea dan Timnas Prancis

“Liga Champions adalah ajang yang sangat identik dengan pengalaman dan sejarah. Faktor itu menjadi kelebihan Liverpool. Tapi, Chelsea punya kesempatan menjuarai Liga Champions musim ini.”
Steve McClaren, mantan pelatih Timnas Inggris.

“Saya pikir, skuad Liverpool musim ini jauh lebih tangguh dan mereka bisa melakukan kejutan di Stamford Bridge. Saya tetap yakin Liverpool akan kembali mengungguli Chelsea.”
Bruno Cheyrou, mantan pemain Liverpool.

DUEL LINI VITAL

Kiper
Cech v Reina
26 tahun Usia 25 tahun
7 kali Tampil 11 kali
586 menit Durasi 990 menit
3 Kebobolan 9

Analisis: Petr Cech maupun Jose “Pepe” Reina memiliki skill maupun refleks yang hampir seimbang. Sekalipun beberapa kali mengalami cedera di kepala dan wajah, Cech bisa tampil konsisten. Tapi, jika pertandingan harus diakhiri dengan adu penalti, Reina punya keunggulan dari sisi pengalaman. (dns/iro)

Lini Belakang
Terry v Carragher
27 tahun Usia 30 tahun
8 kali Tampil 11 kali
720 menit Durasi 990 menit
13 Pelanggaran 12
2 Kartu Kuning 2

Analisis: Lini belakang Chelsea memang tidak sesolid musim lalu. Tapi, kita jarang melihat John Terry offday setiap tampil di Stamford Bridge. Terry juga harus hati-hati karena dia mengalami problem kartu. Sementara itu, Carragher yang tampil menawan di leg pertama mendapatkan ujian untuk bisa mengulang aksi impresifnya di leg kedua. (dns/iro)

Lini Tengah/Depan
Ballack v Kuyt
31 tahun Usia 27 tahun
5 kali Tampil 10 kali
446 menit Durasi 736 menit
2 Gol 5
8 Tembakan 15

Analisis: Michael Ballack tengah on fire menyusul dua golnya ke gawang Manchester United pada Sabtu (26/4) lalu. Tanpa Lampard, Ballack menunjukkan bahwa dia adalah seorang pengatur serangan yang teruji di duel krusial. Jam terbang Ballack di ajang Eropa pun tak perlu diragukan. Sementara itu, Liverpool punya Dirk Kuyt yang selalu mencetak gol-gol penting bagi timnya di Liga Champions. Sekalipun seorang striker, Kuyt tidak manja alias petarung andal di lapangan.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: